KENDARI – Universitas Mandala Waluya, khususnya Unit Teknologi Informasi (UTI), menggelar Festival Olahraga dan Seni Budaya 2026 yang meriah pada akhir pekan lalu. Acara yang berlangsung selama tiga hari, dari 28 hingga 30 Maret 2026, berhasil menghadirkan lebih dari 1.200 mahasiswa dari berbagai program studi, menciptakan suasana meriah yang penuh semangat di kampus Kendari.
Festival ini merupakan inisiatif strategis dari manajemen UTI untuk menghadirkan pendekatan pendidikan yang komprehensif dan seimbang bagi mahasiswa. Selain mengasah kompetensi akademik di bidang teknologi informasi, kegiatan ini dirancang untuk mengembangkan soft skills, kreativitas, dan kesehatan mental generasi muda teknokrat Indonesia.
“Kami percaya bahwa pendidikan teknologi informasi bukan hanya tentang coding, database, atau cyber security. Lebih dari itu, kami ingin menciptakan generasi profesional yang sehat secara fisik, kaya akan kreativitas, dan memiliki kesadaran budaya lokal yang kuat,” ujar Dra. Siti Nurhaliza, M.Sc., Ketua Unit Teknologi Informasi Universitas Mandala Waluya, saat memberikan sambutan pembukaan acara pada Jumat pagi, 28 Maret 2026.
Rangkaian Kegiatan yang Komprehensif
Festival Olahraga dan Seni Budaya 2026 menampilkan berbagai cabang olahraga yang kompetitif sekaligus menyenangkan. Cabang olahraga yang diselenggarakan mencakup futsal, bola voli, badminton, tenis meja, catur, dan e-sports yang merupakan kategori baru dalam ajaran olahraga kampus.
Pada cabang futsal putra dan putri, peserta dari masing-masing kelas dan angkatan berkompetisi dengan antusias. Pertandingan final futsal putra menjadi sorotan tersendiri, ketika tim dari angkatan 2023 berhasil mengalahkan tim angkatan 2022 dengan skor 4-3 dalam drama perpanjangan waktu yang mengharukan.
“Saya sangat bangga melihat semangat kompetisi yang sehat di antara mahasiswa. Ini bukan hanya tentang meraih kemenangan, tetapi juga membangun solidaritas dan teamwork yang sangat penting dalam dunia profesional teknologi informasi,” kata Budi Santoso, S.Kom., M.Tech., Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan UTI.
Sementara itu, kompetisi e-sports yang menghadirkan kategori Mobile Legends, Valorant, dan Dota 2 menarik perhatian khusus dari mahasiswa generasi digital. Lebih dari 150 peserta mendaftar untuk mengikuti turnamen e-sports, menunjukkan bahwa olahraga digital semakin diterima sebagai bagian dari ekosistem kegiatan mahasiswa modern.
Pameran Seni dan Budaya yang Memukau
Selain kompetisi olahraga, festival ini juga menampilkan pameran seni dan budaya yang mencerminkan kekayaan tradisi Sulawesi Tenggara. Berbagai booth seni rupa menampilkan hasil karya mahasiswa mulai dari lukisan, patung, hingga instalasi seni digital yang menggabungkan teknologi dan estetika.
Salah satu booth yang paling ramai dikunjungi adalah pameran batik kontemporer karya mahasiswa semester 5 Program Studi Sistem Informasi. Mereka menciptakan kolaborasi unik antara motif batik tradisional dengan desain grafis modern menggunakan software desain profesional.
“Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa teknologi informasi tidak hanya bisa membuat aplikasi dan website, tetapi juga bisa berkontribusi dalam preservasi budaya lokal melalui digitalisasi dan inovasi kreatif,” jelas Dewi Lestari, mahasiswa semester 5 Sistem Informasi, yang menjadi kurator pameran batik digital tersebut.
Pertunjukan seni budaya langsung juga menjadi highlight utama festival. Panggung utama di halaman rektorat UTI menghadirkan tari-tarian tradisional Sulawesi Tenggara seperti Tari Balumba dan Tari Cakalele yang ditampilkan dengan kostum autentik dan koreografi modern. Selain itu, ada pula pertunjukan musik kontemporer yang menggabungkan instrumen tradisional dengan alat musik modern.
Seorang penonton, Ridho Pratama, mahasiswa angkatan 2024 Program Studi Jaringan Komputer, mengungkapkan apresiasi terhadap penyelenggaraan acara ini. “Saya bersyukur kampus kami memberikan ruang untuk mengeksplorasi seni dan budaya. Stress dari tugas-tugas akademik bisa terobati dengan kegiatan-kegiatan seperti ini. Apalagi dengan tema olahraga dan seni budaya yang sangat menarik,” kata Ridho antusias.
Partisipasi Aktif dan Engagement Mahasiswa
Data yang dikumpulkan panitia menunjukkan tingkat partisipasi yang sangat tinggi dari mahasiswa UTI. Dari 1.200 mahasiswa yang hadir, sekitar 85 persen aktif berpartisipasi dalam minimal satu kegiatan, baik sebagai peserta kompetisi maupun sebagai pengunjung dan penonton.
Keterlibatan mahasiswa juga terlihat dari aspek kepanitiaan. Lebih dari 200 mahasiswa terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan festival, mulai dari tim dekorasi, tim logistik, tim keamanan, hingga tim dokumentasi dan media sosial.
Nadhila Putri Wijaya, koordinator tim acara dari angkatan 2022, mengatakan bahwa pengalaman menjadi panitia memberikan pembelajaran berharga bagi dirinya. “Mengelola event dengan skala besar ini mengajarkan kami tentang manajemen, kepemimpinan, dan bagaimana mengkoordinasikan orang-orang dari berbagai latar belakang. Ini adalah soft skills yang sangat dibutuhkan di industri teknologi informasi,” ungkap Nadhila dengan percaya diri.
Dukungan Penuh dari Manajemen Kampus
Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. H. Bambang Setiawan, M.Eng., juga hadir untuk memberikan dukungan moral kepada seluruh peserta festival. Dalam kesempatan tersebut, beliau menekankan pentingnya keseimbangan antara akademik dan pengembangan karakter mahasiswa.
“Universitas Mandala Waluya berkomitmen untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, kreativitas tinggi, dan kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal. Festival seperti ini adalah wujud nyata dari komitmen tersebut,” ujar Prof. Bambang dalam cuplikan wawancara khusus yang diberikan pada sela-sela acara.
Lebih lanjut, Rektor menjelaskan bahwa unit-unit lain di Universitas Mandala Waluya juga akan menyelenggarakan festival serupa sesuai dengan karakteristik program studi masing-masing. “Kami ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa, di mana pun mereka belajar, mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri secara holistik,” tambah beliau.
Dampak Positif bagi Kesejahteraan Mahasiswa
Penyelenggaraan festival olahraga dan seni budaya ini diharapkan memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesejahteraan mental dan fisik mahasiswa. Menurut Dr. Eka Prasetya, S.Psi., M.Psi., psikolog kampus yang didatangkan untuk memberikan workshop singkat selama festival, aktivitas olahraga dan seni merupakan cara yang efektif untuk mengurangi stress akademik.
“Mahasiswa teknik, khususnya mahasiswa teknologi informasi, sering mengalami tekanan psikis yang tinggi karena tuntutan akademik yang berat dan kompetensi industri yang ketat. Kegiatan olahraga dan seni adalah outlet yang sehat untuk melepaskan tekanan tersebut dan meningkatkan kualitas hidup mereka,” jelas Dr. Eka dalam workshop berjudul “Mental Health melalui Olahraga dan Seni” yang dihadiri lebih dari 300 mahasiswa.
Momentum Membangun Networking dan Kolaborasi
Selain aspek kesehatan dan kreativitas, festival ini juga berfungsi sebagai sarana networking yang sangat berharga. Berbagai perusahaan dan organisasi industri teknologi informasi hadir sebagai sponsor dan sekaligus mengamati potensi talent muda dari UTI.
PT Indosat Ooredoo, PT Telkom, dan beberapa startup teknologi terkemuka dari Makassar dan Jakarta turut menghadirkan booth dan memberikan edukasi industri kepada mahasiswa. Mereka juga mengumumkan berbagai program magang dan beasiswa khusus untuk mahasiswa berprestasi dari UTI.
“Kami sangat terkesan dengan antusiasme dan komitmen mahasiswa UTI dalam mengembangkan diri secara menyeluruh. Ini adalah pertanda baik bahwa mereka akan menjadi profesional yang adaptif dan inovatif di industri kami,” kata Ir. Suryanto, Manager Human Resources PT Telkom Regional Sulawesi Tenggara.
Penutup dan Harapan ke Depan
Festival Olahraga dan Seni Budaya 2026 yang diselenggarakan oleh Unit Teknologi Informasi Universitas Mandala Waluya telah membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya berkutat pada aspek akademik semata. Melalui acara ini, mahasiswa mendapatkan kesempatan emas untuk mengembangkan potensi diri secara komprehensif, membangun jaringan sosial yang kuat, dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal.
Rencana ke depan, manajemen UTI akan membuat festival ini sebagai agenda rutin tahunan dengan konsep yang terus berkembang dan inovasi yang semakin menarik. Selain itu, akan ada program mentoring khusus untuk mahasiswa yang tertarik mendalami seni dan olahraga sambil tetap fokus pada akademik mereka.
“Festival tahun ini adalah awal yang sangat baik. Ke depannya, kami ingin membuat festival yang lebih besar dan melibatkan stakeholder yang lebih luas, termasuk komunitas lokal Kendari. Kami percaya bahwa mahasiswa UTI bisa menjadi agen perubahan positif tidak hanya bagi kampus, tetapi juga bagi masyarakat luas,” tutup Dra. Siti Nurhaliza dengan optimis.
Dengan antusiasme yang terus membara dan dukungan penuh dari seluruh pihak, Unit Teknologi Informasi Universitas Mandala Waluya siap melanjutkan perjalanannya untuk menghasilkan profesional teknologi informasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, kreatif, dan berkomitmen terhadap pelestarian budaya Indonesia.